Peningkatan Kapasitas Tenaga Pendamping Profesional Berbasis PKS (Pengetahuan - Keterampilan - Sikap) dalam Upaya Pencegahan Stunting di Desa

Najamuddin. A


Pencegahan stunting merupakan salah satu isu strategis nasional yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa dan masyarakat. Dalam konteks tersebut, Tenaga Pendamping Profesional (TPP) atau Pendamping Desa memiliki peran penting sebagai fasilitator, penggerak, dan penghubung antara kebijakan pemerintah dengan implementasi di tingkat desa. Untuk menjalankan peran tersebut secara optimal, diperlukan peningkatan kapasitas TPP yang berkelanjutan, khususnya dalam mendukung upaya percepatan pencegahan dan penurunan stunting.

Peningkatan kapasitas TPP dalam pencegahan stunting dilaksanakan dengan pendekatan PSK (Pengetahuan, Sikap, dan Keterampilan) sebagai kerangka utama. Pendekatan ini menekankan bahwa keberhasilan pendampingan tidak hanya ditentukan oleh pemahaman konsep, tetapi juga oleh sikap pendamping dalam berinteraksi dengan masyarakat serta keterampilan teknis dalam memfasilitasi dan mengawal program pencegahan stunting di desa.

Pada aspek "pengetahuan", peningkatan kapasitas diarahkan untuk memperkuat pemahaman TPP mengenai konsep stunting, faktor penyebab, dampak jangka panjang, serta strategi pencegahan yang terintegrasi. TPP dibekali pemahaman tentang pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pemenuhan gizi ibu hamil dan balita, sanitasi dan akses air bersih, serta peran layanan kesehatan dan posyandu dalam pencegahan stunting. Selain itu, TPP juga diperkuat pemahamannya terkait kebijakan dan regulasi pencegahan stunting, termasuk integrasi program stunting dalam dokumen perencanaan dan penganggaran desa.

Selain penguatan pengetahuan, aspek "sikap" menjadi indikator penting dalam peningkatan kapasitas TPP pada isu pencegahan stunting. Pendamping desa diharapkan memiliki sikap peduli, empatik, dan responsif terhadap permasalahan kesehatan dan gizi masyarakat, khususnya yang menyangkut ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Sikap proaktif, kolaboratif, dan berorientasi pada pelayanan menjadi nilai yang terus diperkuat agar TPP mampu membangun kepercayaan dan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam program pencegahan stunting. Dengan sikap yang positif dan humanis, TPP dapat menjadi agen perubahan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan stunting sejak dini.

Sementara itu, peningkatan "keterampilan" difokuskan pada kemampuan praktis TPP dalam mendukung implementasi program pencegahan stunting di desa. Keterampilan tersebut meliputi kemampuan memfasilitasi koordinasi lintas sektor, mendampingi pemerintah desa dalam menyusun perencanaan dan penganggaran kegiatan pencegahan stunting, serta mengawal pelaksanaan intervensi spesifik dan sensitif stunting. TPP juga dilatih untuk memiliki keterampilan komunikasi dan edukasi masyarakat, termasuk dalam mendampingi kader posyandu, kelompok PKK, dan masyarakat sasaran agar pesan-pesan pencegahan stunting dapat dipahami dan diterapkan secara berkelanjutan.

Penerapan pendekatan PSK dalam peningkatan kapasitas TPP memberikan dampak nyata terhadap kualitas pendampingan desa dalam pencegahan stunting. TPP tidak hanya mampu menjelaskan konsep dan kebijakan stunting secara komprehensif, tetapi juga menunjukkan sikap kepedulian yang tinggi serta keterampilan teknis dalam mengawal program di lapangan. Hal ini mendorong terbangunnya sinergi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan desa yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Secara keseluruhan, peningkatan kapasitas TPP berbasis PSK dalam pencegahan stunting merupakan upaya strategis untuk memastikan bahwa pendamping desa memiliki kompetensi yang memadai dalam mendukung agenda pembangunan kesehatan masyarakat desa. Dengan pengetahuan yang kuat, sikap yang peduli dan profesional, serta keterampilan yang aplikatif, TPP diharapkan mampu berkontribusi secara aktif dalam mewujudkan desa yang sehat, bebas stunting, dan berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan.



Peningkatan Kapasitas : Persiapan hingga Pelaksanaan

Najamuddin. A

Peningkatan kapasitas merupakan proses strategis yang bertujuan untuk memperkuat kemampuan individu, kelompok, maupun kelembagaan agar mampu menjalankan peran dan fungsinya secara efektif dan berkelanjutan. Agar kegiatan peningkatan kapasitas berjalan optimal dan tepat sasaran, diperlukan tahapan yang sistematis mulai dari persiapan hingga pelaksanaan kegiatan. Berikut uraian tahapan peningkatan kapasitas secara terstruktur.

1. Tahap Persiapan

Tahap persiapan merupakan fondasi utama dalam pelaksanaan peningkatan kapasitas. Pada tahap ini dilakukan identifikasi kebutuhan (need assessment) untuk mengetahui kondisi awal, permasalahan, serta potensi yang dimiliki oleh sasaran kegiatan. Identifikasi ini dapat dilakukan melalui observasi lapangan, diskusi kelompok terfokus (FGD), wawancara, maupun kajian dokumen.

Selain itu, pada tahap persiapan juga dilakukan penentuan tujuan dan sasaran kegiatan, penyusunan rencana kerja, penentuan materi peningkatan kapasitas, serta penjadwalan kegiatan. Koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait menjadi bagian penting untuk memastikan dukungan dan keterlibatan semua pihak yang berperan dalam kegiatan.

2. Tahap Perencanaan Teknis

Setelah kebutuhan dan tujuan ditetapkan, tahap selanjutnya adalah perencanaan teknis. Tahap ini meliputi penyusunan desain kegiatan peningkatan kapasitas secara lebih rinci, termasuk metode pelaksanaan (pelatihan, pendampingan, lokakarya, atau praktik langsung), penyusunan modul atau bahan ajar, serta penentuan narasumber atau fasilitator.

Pada tahap ini juga dilakukan pengaturan aspek administrasi dan logistik, seperti penyediaan tempat, sarana prasarana, serta kelengkapan administrasi pendukung. Perencanaan teknis yang matang akan meminimalkan kendala saat pelaksanaan kegiatan.

3. Tahap Sosialisasi dan Koordinasi

Sebelum kegiatan dilaksanakan, diperlukan tahap sosialisasi kepada peserta dan pihak terkait. Sosialisasi bertujuan untuk memberikan pemahaman awal mengenai maksud, tujuan, manfaat, serta mekanisme pelaksanaan peningkatan kapasitas. Dengan adanya sosialisasi, peserta diharapkan memiliki kesiapan dan komitmen untuk mengikuti kegiatan secara aktif.

Koordinasi lintas pihak juga diperkuat pada tahap ini, guna menyelaraskan peran dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan.

4. Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan merupakan inti dari proses peningkatan kapasitas. Kegiatan dilaksanakan sesuai dengan rencana dan metode yang telah disusun, baik dalam bentuk pelatihan kelas, diskusi partisipatif, simulasi, praktik lapangan, maupun pendampingan langsung. Pada tahap ini, peserta didorong untuk terlibat aktif agar terjadi proses pembelajaran yang efektif dan aplikatif. (Pada tahap ini juga dijelaskan secara detail alur pelaksanaan peningkatan kapasitas dari tujuan pelaksanaan pelatihan sampai dengan output yang akan dicapai di akhir pelatihan)

Fasilitator atau narasumber berperan dalam menyampaikan materi, memandu diskusi, serta memberikan contoh dan solusi atas permasalahan yang dihadapi peserta. Pendekatan partisipatif sangat penting agar peningkatan kapasitas tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga mampu meningkatkan keterampilan dan pemahaman praktis.

5. Tahap Monitoring dan Evaluasi Awal

Selama dan setelah pelaksanaan kegiatan, dilakukan monitoring dan evaluasi awal untuk menilai ketercapaian tujuan kegiatan. Monitoring dilakukan untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana, sementara evaluasi bertujuan untuk mengukur peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta.

Hasil monitoring dan evaluasi menjadi bahan pembelajaran untuk perbaikan kegiatan peningkatan kapasitas selanjutnya serta sebagai dasar penyusunan rekomendasi tindak lanjut.

Penutup

Tahapan peningkatan kapasitas dari persiapan hingga pelaksanaan merupakan rangkaian proses yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Perencanaan yang matang, koordinasi yang baik, serta pelaksanaan yang partisipatif menjadi kunci keberhasilan peningkatan kapasitas. Dengan tahapan yang sistematis, diharapkan kegiatan peningkatan kapasitas mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi individu maupun kelembagaan sasaran.


Favorite

Peningkatan Kapasitas Tenaga Pendamping Profesional Berbasis PKS (Pengetahuan - Keterampilan - Sikap) dalam Upaya Pencegahan Stunting di Desa

Najamuddin. A Pencegahan stunting merupakan salah satu isu strategis nasional yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerin...

Populer